GERBANG HARAPAN SEORANG PUTRA DESA

 

GERBANG HARAPAN DARI RUMAH KEPALA DESA

 

           Bagi anak seorang buruh serabutan di Desa Larangan Perreng, impian sering kali menjadi barang mewah yang tak berani kusentuh. Tahun 2000, saat seragam merah-putihku mulai mengusang dan ujian akhir Sekolah Dasar menjelang, sebuah tanya besar menggelayut di kepalaku. Aku ingin sekali melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Namun secara logika, impian itu terasa mustahil. Jangankan untuk biaya pendaftaran dan buku, untuk makan sehari-hari saja keluarga kami harus memeras keringat teramat keras.Ayahku bekerja di rumah Kepala Desa Larangan Perreng. Setiap hari beliau memeras peluh, melakukan pekerjaan apa saja demi menyambung hidup kami. Aku pasrah, bersiap mengubur dalam-dalam keinginanku untuk terus belajar.Namun, takdir Tuhan bekerja lewat jalan yang tak pernah terduga.Sore itu, Ayah pulang dengan langkah yang berbeda. Wajahnya yang biasa ditekuk kelelahan, menyiratkan binar yang belum pernah kulihat sebelumnya. Beliau memanggilku, lalu duduk di lincak bambu depan rumah."conk..," panggil Ayah, suaranya agak bergetar. "Tadi Pak Kades memberi tahu Ayah. Ada info kalau di kota Sumenep ada lembaga yang bisa menampung anak-anak kurang mampu agar bisa tetap sekolah. Sebuah panti asuhan."Ayah menatap mataku dalam-dalam. "Kamu mau melanjutkan sekolah, Nak?"Mendengar tawaran itu, dadaku bergemuruh. Rasa tidak percaya dan haru bercampur menjadi satu. Air mata syukur hampir saja tumpah. Peluang yang secara logika sudah tertutup rapat, tiba-tiba dibukakan jalannya oleh kebaikan hati Pak Kades yang meneruskan informasi itu kepada Ayah.Singkat cerita, di tahun 2000 itu, aku melangkah keluar dari desa membawa sebungkus pakaian dan sejuta harapan. Aku resmi menjadi bagian dari keluarga besar Panti Asuhan Taman Harapan di Kota Sumenep. Tempat itu bukan sekadar bangunan penampungan, melainkan rahim kedua yang mendidik dan membesarkanku.Di bawah asuhan Panti Taman Harapan, langkah kakiku tertata menuju gerbang Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Sumenep. Tiga tahun berlalu dengan ketekunan, hingga aku berhasil menyelesaikan pendidikan tingkat pertama. Tak berhenti di sana, pengasuh panti terus mendukung dambaku hingga aku bisa melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sumenep.Total enam tahun lamanya aku menghabiskan masa remaja di Panti Taman Harapan. Enam tahun yang penuh dengan tempaan disiplin, kemandirian, dan ibadah. Di sana, aku tidak hanya diberi kesempatan mengenyam pendidikan formal secara gratis, tetapi juga diajari bagaimana cara tegak berdiri menjadi manusia yang bermanfaat meskipun berangkat dari keterbatasan.Setiap kali aku menatap ijazah MTsN dan MAN Sumenep milikku, aku selalu teringat sore hari di tahun 2000 itu. Sore di mana Ayah membawa kabar dari rumah Kepala Desa Larangan Perreng. Kisah hidupku adalah bukti nyata, bahwa ketika logika manusia mengatakan 'tidak mungkin', tangan Tuhan selalu punya cara untuk mengubahnya menjadi 'mungkin' melalui ketulusan orang-orang baik.

BERSEMI DI BUMI RUNGKUT

          Langkah kaki saya terasa ringan saat menginjakkan kaki kembali di Desa Larangan Perreng. Setelah bertahun-tahun menyelesaikan pendidikan dan menjadi bagian dari keluarga besar Taman Harapan Sumenep, pulang kampung adalah momen yang saya tunggu. Satu minggu pertama di desa berjalan penuh ketenangan, hingga sebuah dering telepon di malam Minggu mengubah garis takdir saya.

Telepon tua di ruang tamu berdering nyaring. Saat saya angkat, suara berwibawa yang sangat saya kenal menyapa. Itu Bapak Iman, salah satu pegawai Taman Harapan. Tanpa basa-basi panjang, beliau menawarkan hal yang selama ini hanya berani saya simpan dalam mimpi: kesempatan untuk melanjutkan kuliah.

Mendengar itu, dada saya bergemuruh. "Keinginan saya untuk kuliah setinggi langit, Pak," jawab saya lirih, menahan haru. "Tapi apa daya dengan kondisi ekonomi keluarga kami."

Di seberang telepon, Bapak Iman tidak mematahkan semangat saya. Beliau justru memberikan perintah yang tegas namun penuh harapan. "Besok hari Rabu, kamu langsung ke Taman Harapan. Pakai pakaian yang rapi. Kamu harus ikut tes beasiswa kuliah di UPN Veteran Jawa Timur."

Kalimat itu menjadi pemantik api semangat yang sempat redup. Rabu pagi, dengan pakaian terbaik dan doa orang tua yang mengalir deras, saya kembali ke Taman Harapan. Ruangan tes hari itu menjadi saksi bisu perjuangan saya menjawab setiap soal, membawa seluruh harapan keluarga di Larangan Perreng.

Beberapa waktu berselang, pengumuman yang dinanti akhirnya tiba. Air mata saya tumpah seketika. Lembar pengumuman itu menyatakan: Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus tes beasiswa UPN Jatim.

KEBERANGKATAN DAN BEKAL YANG MENIPIS

          Setelah resmi dinyatakan lulus, hari-hari saya dilewati dengan cemas sekaligus antusias menunggu panggilan resmi dari pihak UPN. Begitu surat panggilan itu tiba di tangan, tempat pertama yang saya tuju adalah Taman Harapan. Saya datang untuk berpamitan dan memohon doa restu kepada seluruh pengasuh yang telah menjadi orang tua kedua saya selama ini.

Di sela-sela pamitan, Bapak Iman menghampiri saya. Beliau menatap saya dalam-dalam lalu bertanya lembut, "Bawa uang saku berapa untuk ke Surabaya, Nak?"

"Saya bawa uang dua ratus ribu, Pak," jawab saya jujur.

Mendengar jawaban itu, Bapak Iman seketika menunduk lirih. Beliau terdiam sejenak, membayangkan betapa beratnya hidup di kota besar dengan bekal sekecil itu. Tak tega melepas saya dengan tangan hampa, beliau langsung menyuruh saya menemui Ibu Mani untuk meminta tambahan uang saku. Berkat kebaikan hati mereka, saya akhirnya berangkat ke Surabaya membawa bekal total lima ratus ribu rupiah.

Namun, realitas kota besar langsung menyambut saya setibanya di Surabaya. Ongkos perjalanan dan kebutuhan awal langsung memangkas uang di dompet. Begitu menginjakkan kaki di tanah rantau, uang saya hanya tersisa tiga ratus ribu rupiah. Demi menghemat biaya, saya memutar otak dan beruntung diizinkan untuk tinggal di masjid kampus UPN. Menjadi bagian dari penjaga atau perawat masjid membuat saya bisa tidur tanpa perlu memikirkan biaya kos yang mahal.

TITIK BALIK DI TANAH RANTAU

           Hari demi hari berlalu di Surabaya dengan penuh perjuangan. Uang di dompet terus menipis untuk kebutuhan makan sehari-hari. Di tengah perut yang sering keroncongan dan dompet yang kian mengempis, rasa rindu rumah dan ketidakbetahan mulai melanda. Saya sempat merasa tidak kerasan dan ingin menyerah pada keadaan yang begitu menjepit.

Namun, Tuhan tidak pernah tidur. Saat perkuliahan mulai berjalan aktif, sebuah pintu rezeki terbuka melalui perantara seorang dosen bernama Ibu Sita. Melihat potensi dan kondisi saya, Ibu Sita mengajak saya untuk ikut bergabung menjadi panitia dalam sebuah acara kampus.

Dari kegiatan pertama itu, saya mendapatkan honor sebesar tiga ratus ribu rupiah—sebuah nominal yang teramat besar dan berharga bagi saya yang saat itu sedang sekarat secara finansial. Rasa tidak kerasan itu perlahan menguap, berganti dengan semangat baru.

Hubungan baik dengan Ibu Sita terus berlanjut. Beliau memercayai saya untuk terlibat langsung dalam proyek penelitiannya, yaitu budidaya tanaman porang. Di proyek inilah saya tidak hanya mendapatkan tambahan penghasilan untuk menyambung hidup, tetapi juga mempraktikkan langsung ilmu pertanian secara nyata. Mengurus tanaman porang dari hari ke hari menemani perjalanan akademik saya, memberikan banyak pelajaran berharga tentang ketahanan pangan dan ketahanan mental.

TANGIS DI BALIK TOGA KELULUSAN

          Melalui cucuran keringat di lahan penelitian porang, doa dari Larangan Perreng, dan bimbingan dari keluarga besar Taman Harapan, saya akhirnya berhasil melangkah hingga ke garis akhir. Hari yang dinanti itu tiba: prosesi wisuda.

Namun, hari bahagia itu terasa begitu sunyi bagi saya. Di tengah riuhnya gedung wisuda, hati saya menangis pilu. Di sekeliling saya, teman-teman tertawa lebar, berfoto mesra berdampingan dengan kedua orang tua dan sanak famili mereka yang datang membawa buket bunga besar. Sementara saya berdiri sendiri, menggenggam ijazah tanpa ada satu pun anggota keluarga di samping saya.

Semua ini adalah keputusan yang sengaja saya ambil. Saya sengaja tidak memberi tahu Ayah bahwa hari itu saya diwisuda. Jauh di lubuk hati, saya sangat ingin beliau hadir menyaksikan keberhasilan ini. Namun, rasa takut menyusahkan orang tua jauh lebih besar. Saya tidak ingin merepotkan Ayah untuk melakukan perjalanan jauh dari desa ke Surabaya, dan saya sangat tahu bahwa kedatangan mereka akan memakan biaya yang tidak sedikit untuk ongkos dan akomodasi—dana yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk kebutuhan hidup di kampung.

Air mata yang menetes di atas kain toga hari itu adalah campuran antara rasa haru, rindu, dan pembuktian diri. Di tengah kesendirian itu, saya berbisik dalam hati, "Ayah, anakmu hari ini sudah lulus. Meski Ayah tidak ada di sini, toga ini adalah milik Ayah, buah dari doa-doa sunyi yang Ayah panjatkan dari rumah kita di Larangan Perreng." Perjuangan panjang dari sebuah telepon tua di malam Minggu itu kini telah tunai dengan penuh martabat.

TUNGGU CERITA SELANJUTNYA


 

Komentar